Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

SISTIM OPERASIONALISASI BIOGAS

Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi sebagai Alternatif untuk Mencapai Swadaya Energi


Pada beberapa tahun terakhir istilah Biogas memang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat kita. Telah banyak terobosan teknologi tepat guna yang diciptakan baik kalangan insiyur, akademisi maupun masyarakat umum untuk pemanfaatan salah satu energi alternatif terbarukan ini. Bahkan sebagian masyarakat pedesaan di beberapa propinsi, terutama para peternak sapi telah menggunakan teknologi ramah lingkungan ini sebagai pemenuhan kebutuhan bahan bakar sehari-hari. Dengan kata lain, mereka telah berhasil mencapai swadaya energi dengan tidak lagi menggunakan minyak tanah untuk memasak, bahkan juga untuk penerangan.

Walaupun telah banyak informasi yang beredar mengenai Biogas dan dapat dengan mudah diakses melalui berbagai macam media, namun saya tetap berusaha membuat tulisan ini dan posting di blog sebagai jawaban dari saran salah satu rekan blogger senior.
Biofuel

Biogas merupakan salah satu dari jenis biofuel, bahan bakar yang bersumber dari makhluk hidup dan bersifat terbarukan. Berbeda dari bahan bakar minyak bumi dan batu bara, walaupun proses awal pembuatannya juga dari makhluk hidup, namun tidak dapat diperbaharui karena pembentukan kedua bahan bakar tersebut membutuhkan waktu jutaan tahun. Biofuel sendiri merupakan salah satu contoh biomassa. Sesuai dengan namanya, Biogas adalah bahan bakar berbentuk gas.



Paling tidak, ada dua macam Biogas yang dikenal saat ini, yaitu Biogas (yang juga sering disebut gas rawa) dan Biosyngas. Perbedaan mendasar dari kedua bahan diatas adalah cara pembuatannya. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik dengan bantuan bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi biogas didominasi oleh gas metana (CH4) 60%-70%, karbondioksida 40%-30% dan beberapa gas lainnya dalam jumlah yang lebih kecil. Sedangkan Biosyngas (atau lebih sering disingkat Syngas atau Producer Gas) adalah produk antara (intermediate) yang dibuat melalui proses gasifikasi thermokimia dimana pada suhu tinggi material kaya karbon seperti batubara, minyak bumi, gas alam atau biomassa dirubah menjadi karbon monoksida (CO) dan hidrogen (O2). Apabila bahan bakunya batubara, minyak bumi dan gas alam, maka disebut Syngas, sedangkan jika bahan bakunya biomassa maka disebut Biosyngas. Biosyngas dapat digunakan langsung menjadi bahan bakar atau sebagai bahan baku untuk proses kimia lainnya.
Digester Reaktor Biogas

Digester Reaktor Biogas



Pada prinsipnya, pembuatan Biogas sangat sederhana, hanya dengan memasukkan substrat (kotoran ternak) ke dalam digester yang anaerob. Dalam waktu tertentu Biogas akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi, misalnya untuk kompor gas atau listrik. Penggunaan biodigester dapat membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran ternak untuk memproduksi Biogas dan diperoleh hasil samping (by-product) berupa pupuk organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio.


Sebagaimana kita ketahui, Gas metan termasuk gas rumah kaca (greenhouse gas), bersama dengan gas CO2 memberikan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global. Pengurangan gas metan secara lokal ini dapat berperan positif dalam upaya penyelesaian masalah global.


Potensi kotoran sapi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan Biogas sebenarnya cukup besar, namun belum semua peternak memanfaatkannya. Bahkan selama ini telah menimbulkan masalah pencemaran dan kesehatan lingkungan. Umumnya para peternak membuang kotoran sapi tersebut ke sungai atau langsung menjualnya ke pengepul dengan harga sangat murah. Padahal dari kotoran sapi saja dapat diperoleh produk-produk sampingan (by-product) yang cukup banyak.

Sebagai contoh pupuk organik cair yang diperoleh dari urine mengandung auksin cukup tinggi sehingga baik untuk pupuk sumber zat tumbuh. Serum darah sapi dari tempat-tempat pemotongan hewan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, selain itu dari limbah jeroan sapi dapat juga dihasilkan aktivator sebagai alternatif sumber dekomposer.

Jika dibandingkan dengan bahan bakar nabati lainnya, nilai kalori Biogas sangat tinggi, yaitu sebesar 15.000 KJ/Kg jika dibandingkan dengan arang (7.000 KJ/Kg), kayu (2.400 KJ/Kg) bahkan minyak tanah (8.000 KJ/Kg). Oleh sebab itu, aplikasi penggunaan biogas bisa dikembangkan untuk memasak dan penerangan (menghasilkan listrik).

SLPTT-PADI SAWAH

PENGERTIAN
1. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu ataudisingkat PTT adalah pendekatan dalam upaya mengelola lahan,air, tanaman, OPT dan iklim secara terpadu/menyeluruh/holistic dan dapat diterapkan secara lumintu (berkelanjutan). PTT dapatdiilustrasikan sebagai sistem pengelolaan yang menggabungkanberbagai sub sistem pengelolaan, seperti sub sistem pengelolaanHara tanaman, Konservasi tanah dan air, Bahan organik danorganisme tanah, Tanaman (benih, varietas, bibit, populasitanaman dan jarak tanam), Pengendalian hama dan penyakit/organisme pengganggu tanaman, dan Sumberdaya manusia.


2. Benih Bermutu atau Benih Berkualitas atau Benih Bersertifikatadalah benih yang murni secara genetik sebagai pembawa potensigenetik suatu varietas, matang secara fisiologis dan memenuhipersyaratan mutu fisik berdasarkan prosedur pengujian untukmendapatkan sertifikat (sertifikasi). Dalam sertifikasi benih, makaprosedur yang harus dilalui diantaranya pemeriksaan lapangan,pemeriksaan gudang dan peralatan, pengawasan terhadap benihyang sedang diolah serta pemeriksaan laboratorium. Karakteristikyang mencerminkan mutu benih antara lain asli (genuine,authentic), mencerminkan karakteristik varietas yang diwakilinya,murni (tidak tercampur off-types), bersih dari kotoran (biji, gulma,tanaman lain, inert matter, immature seed), bernas, hidup (viable,tumbuh bila ditanam) dan sehat (tidak mengandung penyakit)dengan ketentuan persyaratan masing-masing berbeda sesuaidengan kelas benihnya.





3. Varietas adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atauspesies yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhantanaman, daun, bunga, buah, biji dan eksperesi karakteristikgenotipe atau kombinasi genotipe yang dapat membedakandari jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satusifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalamiperubahan.

4. Varietas Unggul adalah varietas yang telah dilepas olehpemerintah yang mempunyai kelebihan dalam potensi hasildan/atau sifat-sifat lainnya. Varietas unggul dapat berupa hasilpemuliaan, baik melalui cara konvensional biasanya disebutsebagai Varietas Unggul Inbrida, melalui cara inkonvensional/non-konvensional biasanya disebut sebagai Varietas UnggulHibrida maupun introduksi atau dapat pula berupa varietas local disebut sebagai Varietas Unggul Lokal seperti Pandanwangi dan Rojolele.


5. Varietas Unggul Baru pengertiannya sama dengan No.4 hanyabiasanya tergolong varietas unggul hasil pemuliaan secarakonvensional/padi inbrida dan telah dilepas oleh pemerintahselama beberapa tahun terakhir.

6. Varietas Unggul Hibrida pengertiannya sama dengan No.4hanya biasanya tergolong varietas unggul hasil pemuliaan secaranon-konvensional/padi hibrida.

SISTIM PERTANIAN ORGANIK

PENDAHULUAN

Sejak ilmu bercocok tanam dikenal manusia, pertanian organik sudah diterapkan para petani yaitu dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Intensifikasi pertanian melalui gerakan  Revolusi Hijau yang dilaksanakan sejak tahun 1970-an, lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi. Selama beberapa tahun upaya tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi pertanian secara mencolok. Akhir-akhir ini para ahli berpendapat bahwa penggunaan bahan kimia sintetis menyebabkan kerusakan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang berujung pada penurunan produktivitas tanah. Sekitar tahun 1990, pertanian organik mulai berhembus keras di dunia.  Sejak saat itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik.

PENGERTIAN
Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, yang mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Prakteknya, pertanian organik dilakukan dengan cara:
Ø  Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika (GMO= genetically modified organism).
Ø  Menghindari penggunaan bahan kimia sintetis baik pupuk, pestisida maupun zat pengatur tumbuh (growth regulator).
Ø  Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan adiatif sintesis dalam pakan ternak
Konsep dasar dari pertanian organik adalah kegiatan pertanian menggunakan bahan-bahan organik sebagai sarana produksinya. Pangan berkaitan dengan cara-cara produksi organik hanya apabila pangan tersebut berasal dari sebuah sistem pertanian organik yang menerapkan praktek-praktek manajemen yang bertujuan untuk memelihara ekosistem untuk mencapai produktivitas yang berkelanjutan, dan melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) melalui berbagai cara seperti daur ulang residu tumbuhan dan hewan, seleksi dan pergiliran tanaman, manajemen pengairan, pengolahan lahan dan penanaman serta penggunaan bahan-bahan hayati. 
Kesuburan tanah dijaga dan ditingkatkan melalui suatu sistem yang mengoptimalkan aktivitas biologis tanah dan keadaan fisik dan mineral tanah yang bertujuan untuk menyediakan suplai nutrisi yang seimbang bagi kehidupan tumbuhan dan hewan serta untuk menjaga sumberdaya tanah.  Produksi harus berkesinambungan dengan menempatkan daur ulang nutrisi tumbuhan sebagai bagian penting dari strategi penyuburan tanah.
Manajemen hama dan penyakit dilakukan dengan merangsang adanya hubungan seimbang antara inang/predator, peningkatan populasi serangga yang menguntungkan, pengendalian biologis dan kultur teknis serta pembuangan secara mekanis hama maupun bagian tumbuhan yang terinfeksi
Keuntungan
¬  Menghasilkan makanan yang cukup, aman, dan bergizi sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat dan sekaligus daya saing produk agribisnis;
¬  Meningkatkan pendapatan petani;
¬  Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani;
¬  Meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian;
¬  Meningkatkan dan menjaga produktivitas lahan pertanian dalam jangka panjang, serta memelihara kelestarian sumber daya alam dan lingkungan;
¬  Menciptakan lapangan kerja baru dan keharmonisan kehidupan sosial di pedesaan.
 
Dasar budidaya ternak secara organik adalah pengembangan hubungan secara harmonis antara lahan, tumbuhan dan ternak, serta penghargaan terhadap kebutuhan fisiologis dan kebiasaan hidup ternak.  Hal ini dipenuhi melalui kombinasi antara penyediaan pakan yang ditumbuhkan secara organik yang berkualitas baik, kepadatan populasi ternak yang cukup, sistem budidaya ternak yang sesuai dengan tuntutan kebiasaan hidupnya, serta cara-cara pengelolaan hewan yang dapat mengurangi stress dan berupaya mendorong kesejahteraan serta kesehatan ternak, pencegahan penyakit  dan menghindari penggunaan obat-obatan kimia (termasuk antibiotika)

KEKUATAN (STRENGTH)
Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen pertanian organik terkemuka di dunia beberapa faktor yang menjadi kekuatan Indonesia dalam pengembangan pertanian organik adalah:
1.          Sumberdaya alam dan sumberdaya hayati
Sebagai negara agraris, indonesia memiliki potensi sangat besar bagi sistem pertanian organik. Selain lahan pertanian tropik, plasma nutfah yang sangat beragam, juga didukung oleh ketersediaan bahan organik. Produk buah-buahan seperti durian, manggis, salak, duku dan rambutan dengan mudah digolongkan ke dalam buah-buah organik.
2.          Adanya berbagai pemangku kepentingan yang memiliki respon terhadap pertanian organik
Peminat pertanian organik telah mendeklarasikan organisasi yang diberi nama Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA).  Di Indonesia juga telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya. Adanya berbagai pemangku kepentingan yang bergerak dalam pertanian organik menjadi kekuatan tersendiri bagi pengembangan pertanian organik di masa yang akan datang.
3.          Berkembangnya bioteknologi mikroba pendukung pertanian organik
a.       Teknologi kompos bioaktif. Teknologi ini merupakan teknologi yang dapat mempersingkat proses pengomposan (dekomposisi) bahan organik dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu. Produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, yang tersedia di pasaran diantaranya: SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba, Stardec, dan lain-lain. SuperDec dan OrgaDec, merupakan biodekomposer yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI). Mikroba biodekomposer unggul yang digunakan adalah Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, dan fungi pelapuk putih. Mikroba tersebut mampu mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar 2-3 minggu. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan untuk mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman.
b.      Biofertilizer. Teknologi ini merupakan teknologi mikroba yang berperan dalam meningkatkan penyediaan dan penyerapan hara tanaman. Prinsip dasarnya mikroba tanah yang mampu menghasilkan hormon tanaman diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer (jasad penyubur tanaman). Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain Emas, Rhiphosant, Kamizae, OST, dan Simbionriza.
c.       Agen biokontrol. Teknologi ini merupakan teknologi mikroba untuk pengendalian hama dan penyakit. Teknologi mikroba (agen biokontrol) yang sudah dikembangkan antara lain Bacillus thuringiensis (BT), Bauveria bassiana, Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae., Trichoderma sp. Beberapa produk biokontrol yang tersedia di pasaran, antara lain, Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P, dan Hamago.
4.          Adanya dukungan kebijakan pemerintah
Departemen Pertanian sejak tahun 2000 telah memberikan perhatian yang serius terhadap pengembangan pertanian organik, bahkan pada saat itu dicanangkan untuk mencapai Go Organik 2010. Selanjutnya untuk mencapai Go Organik 2010 tersebut berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan diantaranya adalah dengan dibentuknya Otoritas Kompeten Pertanian Organik melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 432/Kpts/OT.130/9/2003 dan Pembentukan Task Force Organik.
Berbagai pelatihan fasilitator dan inspektor organik, seminar dan workshop untuk mensosialisasikan pertanian organik kepada masyarakat dan stakeholder telah dilakukan bekerjasama dengan berbagai lembaga yang telah bergerak di bidang pertanian organik. Ketentuan tentang persyaratan produksi, pelabelan dan pengakuan (claim) terhadap produk pangan organik telah dikonsensuskan  pada Standar Nasional Indonesia Pertanian Organik dan disahkan oleh BSN yaitu SNI 01-6729-2002 Sistem Pangan Organik Produksi, Pemrosesan, Pelabelan dan Pemasaran.

BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG

JAGUNG
( Zea mays L. )


1.  PELUANG AGRIBISNIS
Jagung merupakan komoditas pangan sumber karbohidrat kedua setelah beras, sangat penting untuk ketahanan pangan. Jagung juga berperan penting dalam industri pakan ternak dan industri pangan. Dalam kurun lima tahun terakhir, kebutuhan jagung nasional untuk bahan industri pakan, makanan dan minuman meningkat ±10%-15%/tahun.
Pengembangan jagung diarahkan untuk mewujudkan Indonesia menjadi produsen jagung yang tangguh dan mandiri pada tahun 2025 dengan ciri-ciri produksi yang cukup dan efisien, kualitas dan nilai tambah yang berdaya saing, penguasaan pasar yang luas, meluasnya peran stakeholder, serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. Dalam periode 2005-2025, produksi jagung nasional diproyeksikan rata-rata tumbuh sebesar 4,26%.
Kondisi di atas menggambarkan bahwa komoditi jagung mempunyai peluang yang sangat besar untuk dikembangkan melalui agribisnis.
2.   KEUNGGULAN KOMPARATIF
Jagung banyak diolah dalam bentuk tepung, makanan ringan atau digunakan untuk bahan baku pakan ternak. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sejalan dengan perkembangan industri pengolah jagung dan  perkembangan sektor peternakan,  permintaan akan jagung cenderung semakin meningkat.
Sebagai daerah yang paling dengan pusat pelayanan (ibu kota Propinsi Jawa Barat), pengembangan jagung di Kabupaten Sumedang memiliki keunggulan komparatif dibanding daerah lain karena proses produksi dan distribusi hasil dapat dikembangkan lebih efisien.
3.  LINGKUNGAN BUDIDAYA
3.1. Iklim
-       Iklim sedang hingga daerah beriklim basah.
-       Pada lahan tidak beririgasi, curah hujan ideal 85-200 mm/bulan dan harus merata.
-       Sinar matahari cukup dan tidak ternaungi
-       Suhu 21-340C, optimum 23-270C. Perkecambahan benih memerlukan suhu ± 300C.
3.2. Media Tanam
-        Tanah gembur, subur dan kaya humus.
-        Jenis tanah: andosol, latosol, grumosol, dan tanah berpasir. Tanah grumosol memerlukan  pengolahan tanah yang baik. Tanah terbaik bertekstur lempung/liat berdebu.
-        pH tanah  5,6 - 7,5.
-        Aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.
-        Kemiringan ≤ 8%, lahan miring > 8%, perlu di teras.
-        Tinggi tempat 1.000-1800 m dpl, optimum 0-600 m dpl.
4. WILAYAH PENGEMBANGAN
Wilayah pengembangan jagung di Kabupaten Sumedang: adalah Kecamatan Cibugel, Wado, Tanjungsari, Rancakalong, Cimanggung, Jatinangor, Buahdua, Tanjungmedar dan Pamulihan
5. TEKNOLOGI  BUDIDAYA
5.1. Penyiapan Benih
1)   Persyaratan Benih
-       Bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya.
-       Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, murni, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang terjamin adalah benih bersertifikat.
Jagung hibrida berpotensi produksi tinggi, namun mempunyai kelemahan yaitu harga benih lebih mahal, dapat digunakan maksimal 2 kali turunan. Beberapa varietas unggul jagung seperti terlihat pada Tabel 1.
 
Tabel 1. Beberapa Contoh Varietas Jagung Hibrida
Varietas
Umur
Potensi Hasil
(Ton/ha)
Rata- rata Hasil (Ton/ha)
C6
98-105
-
10-10,3
C7
95-105
10-12,4
8,1
Pioneer 13
90-115
10-11
8,027
Pioneer 14
89-112
10-11
7,578
CPI -1
97
-
6,2
CPI- 2
97
8-9
6,2
IPB 4
100-105
-
6,6
Semar 2
91
-
5,0-6,1
Semar 3
94
8-9
5,3


2)   Penyiapan Benih;
-           Benih jagung komposit dapat diperoleh dari penanaman sendiri, dari jagung yang tumbuh sehat.
-           Dari tanaman terpilih, diambil jagung yang tongkolnya besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot, dan tidak terserang oleh hama penyakit.
-           Tongkol dipetik setelah lewat fase matang fisiologi dengan ciri: biji mengeras dan sebagian besar daun menguning.
-           Tongkol dikupas dan dikeringkan, bila benih akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan tongkol dibungkus dan disimpan di tempat kering.
-           Dari tongkol kering, diambil biji bagian tengah. Biji di bagian ujung dan pangkal tidak digunakan sebagai benih.
-           Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Benih yang dibutuhkan adalah sebanyak 20-30 kg/ha.

3)  Perlakuan  Benih
Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dengan fungisida, terutama apabila diduga akan ada serangan jamur. Bila diduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik.


5.2. Pengolahan Media Tanam
Pengolahan tanah bekas pertanaman padi dilaksanakan setelah membabad jermi. Jerami dapat digunakan sebagai mulsa/penutup tanah setelah jagung ditanam. Kegunaan mulsa yaitu mengurangi penguapan tanah, menghambat pertumbuhan gulma, menahan pukulan air hujan dan lama kelamaan mulsa menjadi pupuk hijau. Pengolahan tanah pada lahan kering cukup sampai dengan kedalaman 10 cm dan semua limbah digunakan sebagai mulsa.
Pada saat pengolahan tanah setiap 3 m perlu disiapkan saluran air sedalam 20 cm dan lebar 30 cm yang berfungsi untuk memasukkan air pada saat kekurangan air dan pembuangan air pada saat air berlebih.
Tanah dengan pH kurang dari 5,0, harus dikapur 1 bulan sebelum tanam. Jumlah kapur yang diberikan 1-3 ton/ha untuk 2-3 tahun disebar merata atau pada barisan tanaman, Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha per musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman atau menggunakan mineral zeolit dengan dosis sesuai dengan petunjuk  produsen.
1). Minimum Tillage
Pada lahan-lahan yang peka terhadap erosi, budidaya jagung perlu diikuti dengan usaha-usaha konservasi seperti penggunaan mulsa dan sedikit mungkin pengolahan tanah. Bila waktu tanam mendesak, pengolahan tanah dapat dilakukan hanya pada barisan tanaman saja, selebar 60 cm dengan kedalaman 15 – 20 cm
2). Zero Tillage (tanpa pengolahan tanah)
Pemberantasan gulma menggunakan herbisida 2-3 lt/ha. Tanah dicangkul hanya untuk lubang tanaman.
 
5.3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
-       Tumpang sari (Intercropping); Penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda).
-       Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum.
-       Tanaman bersisipan (Relay Cropping): dengan cara menyisipkan satu/beberapa jenis tanaman selain jagung. Misalnya waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
-       Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya. Pada pola ini lahan efisien, tetapi riskan terhadap hama dan penyakit.
2)   Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan tugal sedalam 3-5 cm, tiap lubang diisi 1 butir benih. Jarak tanam disesuaikan dengan umur panen. Jagung berumur ≥100 hari jarak tanam 40 x 100 cm (2 tanaman /lubang). jagung.berumur 80-100 hari, jarak tanamnya 25 x 75 cm (1 tanaman/lubang). Sedangkan jagung. berumur < 80 hari, jarak tanam 20 x 50 cm (1 tanaman/lubang).
Tabel 2. Jarak tanam dan Populasi Jagung Per Hektar
Varietas
Jarak tanam
(cm x cm)
Populasi
(Tanaman/Ha)
Umur dalam
(>100 hari)
100 x (40-50)
40.000 – 50.000
Umur tengah
(90-100 hari)
75 x (40-50)
53.000  - 66.000
Umur genjah
(80-90 hari)
50 x (20-25)
80.000 – 100.000


3)   Cara Penanaman
Saat tanam tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun. Jumlah benih per lubang tergantung keinginan, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji/lubang, bila dikehendaki 1 tanaman/lubang, maka benih yang dimasukkan 2 biji/lubang.
Jumlah kebutuhan benih per hektar dengan beberapa alternatif jarak tanam dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Jarak Tanam dan Kebutuhan Benih Jagung
Jarak tanam
(cm)
Non Hibrida
(kg/ha)
Hibrida
(kg/ha)
100 x 40
22,5
-
75 x 25
32
20
75 x 40
-
30 – 40
75 x 20
40
-
50 x 20
60
-

4) Lain-lain
Di lahan irigasi jagung ditanam pada musim kemarau. Di sawah tadah hujan ditanam pada akhir musim hujan. Di lahan kering ditanam pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.
5.4. Pemeliharaan
1) Penjarangan dan Penyulaman
Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman dan hanya dikehendaki 2 atau 1, tanaman yang tumbuh paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain.
Benih yang tidak tumbuh/mati perlu disulam, kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Penyulaman menggunakan benih dari jenis yang sama.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman muda menggunakan tangan, cangkul kecil, garpu. Penyiangan harus hati-hati agar tidak mengganggu perakaran yang belum kuat mencengkeram tanah.
3) Pembumbunan
Pembumbunan bersamaan dengan penyiangan dan pemupukan pada umur 6 minggu. Tanah di kanan dan kiri barisan jagung diurug dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman, membentuk guludan memanjang. Pembubunan juga dilakukan bersamaan penyiangan kedua.
4) Pemupukan
Pemupukan perlu memperhatikan jenis, dosis, waktu dan cara pemberian pupuk. Pada umumnya varietas unggul lebih banyak memerlukan pupuk dibandingkan dengan varietas lokal. Pemupukan pada tanaman jagung disajikan pada tabel 4.

Tabel 4 Dosis dan Waktu Pemberian Pupuk pada Tanaman Jagung
No
Jenis
Dosis
(kg/ha)
Waktu pemberian
Dasar
21 HST
35 HST
(kg/ha)
(kg/ha)
(kg/ha)
1
Non Hibrida





- Urea
200
83,33
166,67
-

- TSP/SP-36
75-100
75-100
-
-

- KCL
50
50
-
-
2
Hibrida


-
-

- Urea
300
100
100
100

- TSP/SP-36
100
100
-
-

- KCL
50
50
-
-


Pertanaman jagung perlu dipupuk dengan pupuk organik 15.000-20.000kg/ha disebar merata saat pengolahan tanah atau disebar dalam larikan dengan dosis 300 kg/ha.
Pupuk buatan diberikan  secara tugal/larikan sedalam ± 10 cm pada kedua sisi tanaman dengan jarak 7 cm. Pada jarak tanam yang rapat pupuk dapat diberikan di dalam larikan yang dibuat di kiri kanan barisan tanaman
5) Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab. Pengairan diperlukan pada saat pembentukan malai dan tongkol. Pemberian air pada pertanaman jagung cukup sampai tingkat kapasitas lapang atau tidak sampai tergenang.
Pertanaman jagung yang terlalu kering dapat diairi melalui saluran pemasukan air. Air yang diberikan cukup hanya menggenangi selokan yang ada, dibiarkan satu malam dan pada pagi harinya sisa air dibuang.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates